Sesi 1. Pengantar Mata Kuliah: Safety and Quality serta Model Berwick dalam Mutu Pelayanan Kesehatan

Gambar 1. Konsep rantai efek perbaikan mutu pelayanan kesehatan (Berwick)

Deskripsi:

Pada mata kuliah ini, mahasiswa akan diperkenalkan berbagai macam upaya perbaikan mutu menggunakan konsep rantai efek perbaikan mutu pelayanan kesehatan yang dikembangkan oleh Donald Berwick. Menggunakan konsep tersebut, terdapat beberapa simpul perubahan dalam upaya peningkatan mutu yang saling terkait, mulai dari pengalaman pasien dan masyarakat, sistem mikro pelayanan klinis, sistem organisasi pelayanan, dan lingkungan pelayanan kesehatan. Dengan memahami dan menganalisis di setiap simpul perubahan, maka diharapkan mahasiswa dapat melakukan perubahan sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

Dosen Pengampu: Adi Utarini

Bahan Bacaan: Chain of Effect in the John Eisenberg


Sesi 2. Pemberdayaan Pasien dan Masyarakat dalam Pelayanan Kesehatan 

Deskripsi:

Dalam konsep Rantai efek perbaikan mutu Berwick, simpul yang pertama adalah pasien dan masyarakat. Sesi kuliah “pasien dan masyarakat sebagai mitra pelayanan” mendeskripsikan peran pasien dan masyarakat dalam meningkatkan keselamatan pasien dan mutu pelayanan.

Perubahan paradigma pelayanan kesehatan ke arah patientcentered care bahkan ke personcentered care menguatkan pemikiran bahwa pasien diharapkan berpartisipasi aktif sebagai mitra penyedia layanan kesehatan. Partisipasi pasien dapat dikembangkan pada setiap simpul rantai efek Berwick, mulai dari pengalaman pasien, tingkat pelayanan, tingkat organisasi, dan tingkat lingkungan eksternal. Dengan demikian, partisipasi pasien dapat dilakukan untuk: 1) membantu proses diagnosis & pengobatan; 2) mengembangkan pelayanan; 3) membuat keputusan strategik; dan 4) mendorong lingkungan luar RS. Faktanya partisipasi pasien dan masyarakat belum menjadi gerakan yang kuat di Indonesia. Padahal peran pasien dalam keselamatan pasien dan peningkatan mutu sangatlah banyak, misalnya melaporkan KTD, melaporkan komplikasi akibat operasi, mendokumentasikan daftar obat yang diminum, mengingatkan petugas kesehatan untuk mencuci tangan dan sebagainya.

Pentingnya peran pasien dan masyarakat juga tercermin dari berbagai ukuran dalam outcome pelayanan. Berbagai studi mendokumentasikan berbagai metode dan alat ukur untuk mengukur kepuasan pasien dan pengalaman pasien. Belakangan ini, ukuran pengalaman pasien semakin banyak digunakan oleh karena peningkatan mutu lebih mudah ditindaklanjuti.

Dosen Pengampu: Adi Utarini

Bahan Bacaan: Engaging Patients, Orasi Ilmiah Sardjito


Sesi 3. Manajemen Risiko dan Keselamatan Pasien

Deskripsi:

Sistem mikro pelayanan klinis merupakan esensi dari setiap pelayanan kesehatan, karena pada tingkatan inilah pasien, keluarga dan tim pemberi pelayanan berinteraksi. Seluruh pengalaman yang dirasakan pasien, keluarga dan tim pemberi pelayanan berasal dari kegiatan di sistem mikro ini. Apakah menerima pelayanan yang aman, efektif, tepat waktu dengan cara yang menghargai pasien dan keluarganya? Jawabannya terdapat di sistem mikro ini.

Dalam memberikan pelayanan klinis kepada pasien, keluarga dan masyarakat, tidak ada yang dapat menjamin bahwa risiko sebagai dampak dari pelayanan kesehatan tidak akan diterima pasien. Telah disadari bahwa rumah sakit dan pelayanan kesehatan pada umumnya berisiko tinggi, oleh karenanya risiko perlu dikenali sedini mungkin dan diminimalkan. Dokter sebagai pemimpin timpelayanan kesehatan tidak dapat bekerja sendiri, namun berkolaborasi dengan tenaga lain seperti perawat, bidan, apoteker, analisis laboratorium, radiografer dan tenaga lainnya. Pada sesi ini, mahasiswa diperkenalkan pentingnya manajemen risiko sebagai upaya untuk meningkatkan keselamatan pasien.

Manajemen risiko adalah setiap upaya untuk meminimalkan risiko adverse events yang terjadi dalam organisasi dengan secara sistemik melakukan penilaian, penelaahan, dan mencari cara untuk mencegah terulangnya kembali risiko yang sama. Manajemen risiko dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi risiko, menilai risiko, meminimalkan risiko dan menghitung biaya dan dampak risiko. Manajemen risiko dilakukan untuk: 1) mengelola risiko akibat tindakan; 2) mengelola risiko pada staf dan risiko yang berkaitan dengan mutu pelayanan; 3) mengelola risiko agar memenuhi target lembaga atau kebijakan nasional; 4) mengelola risiko untuk efisiensi pelayanan; dan 5) mengelola risiko untuk memelihara reputasi rumah sakit.

Dosen Pengampu: Iwan Dwiprahasto

Bahan Bacaan: Quality by Design

Referensi:

Nelson EC, Batalden PB, Godfrey MM. Quality by Design: A Clinical Microsystems Approach. Introduction and Chapter 8. Improving patient safety. Jossey-Bass, USA; 2007.


Sesi 4. Metoda Analisis Risiko dengan FMEA

Deskripsi:

Cara lain melakukan analisis risiko pada fasilitas pelayanan kesehatan adalah dengan Failure-Mode Effect Analysis (FMEA). Sesi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa menggunakan FMEA, yang merupakan suatu teknik yang digunakan untuk perbaikan sistem yang telah terbukti dapat meningkatkan keselamatan pasien. FMEA dapat memberikan informasi mengenai permasalahan-permasalahan yang mungkin dapat terjadi dan tingkat keparahan dari akibat yang ditimbulkan. FMEA dilakukan oleh tim yang terdiri dari perwakilan manajemen, orang yang terlibat dalam pelayanan yang akan dilakukan FMEA, dan orang yang sudah pernah mendapat pelatihan FMEA atau fasilitator. FMEA dilakukan pada kasus yang belum terjadi. FMEA dilakukan melalui beberapa tahapan: (1) menentukan konteks, (2) mengidentifikasi risiko, (3) melakukan analisa severity dan frekuensi, (3) mengevaluasi risiko, (4) menganalisis risiko. Proses FMEA harus dikomunikasikan kepada semua unit dan dilakukan monitoring evaluasi.

Dosen Pengampu: Hanefi Djasri

Bahan Bacaan: Blood Transfution, Effect Analysis Tool to Review the Process of Ordering and Administrating Potassium Chloride, Redesign Pelayanan Farmasi dengan Metode FMEA, HFMEA for Preventing Chemotherapy Errors

Referensi:

  1. Dehnavieh R, Ebrahimipour H, Molavi-Taleghani Y, Vafaee-Najar A, Hekmat SN, Esmailzdeh H. Proactive Risk Assessment of Blood Transfusion Process, in Pediatric Emergency, Using the Health Care Failure Mode and Effects Analysis (HFMEA). Global Journal of Health Science, 2015, Vol. 7, No. 1: 322-331.
  2. Chia-Hui Cheng, Chia-Jen Chou, Pa-Chun Wang, Hsi-Yen Lin, Chi-Lan Kao,Chao-Ton Su. Applying HFMEA to Prevent Chemotherapy Errors. J Med Syst, 2012; 36:1543–1551.

Sesi 5. Metoda Analisis Risko dengan RCA

Deskripsi:

Untuk setiap permasalahan mutu yang ditemukan, selalu ada penyebabnya. Root cause analysis (RCA) merupakan salah satu tools untuk analisa risiko. RCA dilakukan setelah terjadi masalah, misalnya pada pasien yang mengalami operasi salah sisi.

RCA adalah proses mengenali faktor-faktor yang mendasari atau menjadi penyebab terjadinya variasi kinerja. Variasi kinerja dapat berakibat terjadinya hasil yang tidak diharapkan atau yang tidak diinginkan, termasuk terjadinya kejadian sentinel yang berakibat kematian atau kecacatan fisik dan/atau psikologis yang serius atau risiko yang dapat berakibat kematian atau kecacatan serius. Pada sesi ini mahasiswa akan dipandu untuk mengenali tahapan dalam melakukan RCA.

Dosen Pengampu: Hanevi Djasri

Bahan Bacaan: RCA in Maternal Mortality, RCA Delayed

Referensi:

  1. Barsalou MA. Root Cause Analysis: A Step-by-Step Guide to Using the Right Tool at the Right Time. CRC Press, New York, USA; 2015.
  2. Madzimbamuto FD, Ray SC, Mogobe KD, Ramogola-Masire D, Philips R, Haverkamp M, Mokotedi M, Motana M. A root-cause analysis of maternal deaths in Botswana: Towards developing a culture of patient safety and quality improvement. BMC Pregnancy and Childbirth 2014, 14:231.
  3. Giardina TD, King BJ, Ignaczak A, Paull DE, Hoeksema L, Mills PD, Neily J, Hemphill RR, Singh H. Root Cause Analysis Reports Help Identify Common Factors In Delayed Diagnosis And Treatment Of Outpatients. Health Aff (Millwood). 2013 August ; 32(8): . doi:10.1377/hlthaff.2013.0130

Sesi 6. Standard dan Indikator Mutu Pelayanan Kesehatan

Deskripsi:

Pembelajaran mata kuliah standar dan indikator mutu pelayanan kesehatan merupakan salah satu bagian daripendekatan Donald Berwick, kuliah ini bertujuan untuk: (1) Memahami definisi standar; (2) Menjelaskan pentingnya standar dalam memberikan pelayanan kesehatan; (3) Menjelaskan jenis-jenis standar; (3) Memahami langkah penyusunan standar; (4) Memahami indikator mutu sebagai cara memantau dan mengevaluasi standar

Standar adalah tingkat mutu yang relevan terhadap suatu kinerja (standard is an expected level of performance). Standar digunakan untuk mengurangi variasi proses, meningkatkan keselamatan pasien dan penyedia pelayanan serta persyaratan untuk disebut profesional. Jenis standar bermacam-macam, mulai dari menurut Donabedian, Burrill & Ledolter, dan MuirGray. Paling lazim digunakan jenis standar menurut Donabedian.

Gambar 1. Jenis Standar Menurut Donabedian

Bagaimana cara melakukan monitoring dan evaluasi (MONEV) terhadap standar pelayanan? MONEV dapat dilakukan secara internal dan eksternal rumah sakit. Secara internal melalui sertifikat kompetensi tenaga kesehatan, clinical audit, clinical indicators dan secara eksternal dapat dilakukan oleh Dinas Kesehatan melalui benchmarkindikator terhadap seluruh institusi pelayanan di wilayah kerja.

Gambar 2. Monitoring dan Evaluasi Standar

Dosen Pengampu: Adi Utarini

Bahan Bacaan:


Sesi 7. Sistem Manajemen Mutu

Dosen Pengampu: Hanevi Djasri


Sesi 8. Komitmen dan Tata Nilai/Budaya Mutu

Dosen Pengampu: Hanevi Djasri


Sesi 9. Kepemimpinan dalam Manajemen Mutu

Dosen Pengampu: Iwan Dwiprahasto


Sesi 10. Peningkatan Mutu yang Berkesinambungan

Dosen Pengampu: Trisasi Lestari


Sesi 11. Berbagai Model dan Piranti dalam Peningkatan Mutu Berkesinambungan

Dosen Pengampu: Trisasi Lestari


Sesi 12. Utilization Review

Dosen Pengampu: Trisasi Lestari


Sesi 13. Metode Statistik dan Perangkat dalam Peningkatan Mutu

Dosen Pengampu: Trisasi Lestari


Sesi 14. Seminar dan Diskusi

Dosen Pengampu: Hanevi Djasri


Sesi 15. Seminar dan Diskusi

Dosen Pengampu: Laksono Trisnantoro


Sesi 16. Seminar dan Diskusi

Dosen Pengampu: Adi Utarini


Sesi 17. Program Mutu dan Keselamatan dalam Pelayanan Kesehatan

Dosen Pengampu: Tjahjono Kuntjoro


Sesi 18. Kebijakan dan Regulasi Mutu Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

Dosen Pengampu: Tjahjono Kuntjoro


Sesi 19. Kebijakan dan Regulasi Mutu Pelayanan Kesehatan Tingkat Rujukan

Dosen Pengampu: Tjahjono Kuntjoro

Bahan Bacaan: Permenkes No. 12 Tahun 2012, Permenkes No. 56 Tahun 2014


Sesi 20. Akreditasi Pelayanan Kesehatan

Dosen Pengampu: Tjahjono Kuntjoro


Sesi 21. Visitasi ke Badan Mutu Pelayanan Kesehatan, Daerah Istimewa Yogyakarta

Dosen Pengampu: Adi Utarini